Archive for the ‘berita’ Category

Bandung, Gantira Kusumah, Anggota DPRD Provinsi Jabar dari Fraksi Partai Gerindra yang terpilih di  Dapil I yang meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi mengadakan reses th II sidang 2010. Reses yang diadakan pada hari Selasa (24/08)  dihadiri oleh Muspika, LPM, Tokoh Masyarakat serta Tokoh Pemuda Kecamatan Mandalajati Kota Bandung.

Dalam reses Edeng Mulyana yang mewakili Camat Mandalajati menyampaikan rasa syukurnya dimana sebelum-sebelumnya sangat sulit sekali menemui Anggota Dewan yang telah terpilih, namun baru sekarang hanya dari Anggota  DPRD Provinsi Jabar dari fraksi Partai Gerindra yang mau terjun langsung untuk mendengar aspirasi dari masyarakat.

Edeng Mulyana menyampaikan bahwa masyarakat di kecamatan Mandalajati mengeluhkan akan sulitnya mendapakan air bersih untuk kepentingan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena letaknya di lokasi tanah yang lebih tinggi dan ini dirasakan oleh empat Kelurahan yang ada di Kecamatan Mandalajati. Selain sulitnya mendapatkan air, jika musim penghujan datang sering mendapatkan kiriman air limbah dari pabrik yang ada di wilayah Kecamatan Mandalajati  tutur Edeng Mulyana dalam reses.

Masyarakat juga berkeinginan agar  jalan Sekebitung dapat diperbaiki dimana keadaanya jalan Sekebitung saat ini mengalami rusak parah, ”jangankan dilalui oleh kendaraan roda empat oleh roda dua pun sangat sulit,  walau memiliki lebar jalan 3 meter” seperti apa yang dituturkan oleh Ketua LPM  Kelurahan Karang Pamulang.

Setelah mendengar langsung,  Gantira Kusumah berjanji  akan memperjuangkan aspirasi masyarakatat  Kecamatan Madalajati di Provinsi Jabar dan mudah-mudahan aspirasi masyarakat ini dapat segera di realisasikan. (johans69)

Iklan


Sabtu, 17 Juli 2010
Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, menanggapi keluhan yang disampaikan masyarakat terkait pengawalan pejabat negara. Andrinof menilai, pengawalan bagi para pejabat saat ini cenderung berlebihan.

Ia mengamati, pengawalan yang sangat ketat pun diberlakukan bagi para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tanpa harus menanggalkan perlunya perlindungan keselamatan bagi para pejabat negara, pengawalan mereka selama berkendara juga perlu dikaji lagi.

“Belakangan saya lihat cenderung berlebihan, terutama saat menteri KIB II ini. Para menteri juga dikawal pakai iringan mobil. Itu baru menteri. Rombongan Presiden juga kalau lewat semakin panjang saja,” kata Andrinof, Sabtu (17/7/2010) kepada Kompas.com.
Ia sepakat bahwa keselamatan para pejabat negara harus dilindungi. Namun, dengan kondisi lalu lintas Jakarta yang sangat macet, pengawalan terhadap mereka sering kali mengganggu kenyamanan masyarakat.
“Pejabat juga perlu menyesuaikan. Bagaimana rombongan itu bisa semakin pendek. Misal, mau ke rumah Presiden ya rombongannya tidak usah terlalu panjang. Untuk penyetopan juga harus lebih terkoordinasi agar tidak terlalu lama,” ujarnya.
Para menteri, menurutnya, tak perlu dikawal dengan iringan mobil. “Cukup dengan kendaraanvoorjider saja,” lanjut Andrinof.
selain boros, pengawalan yang berlebihan tehadap para pejabat negara dinilainya merupakan cermin pejabat yang feodalistik. “Dengan pengawalan berlebih, di luar Presiden ya, para pejabat itu seolah ingin pamer jabatan dan ingin dihormati masyarakat. Seharusnya mereka juga menghormati masyarakat. Sederhana saja, jangan membebani masyarakat dengan keistimewaan yang diterimanya,” kata dia.
(Kompas.com)


Sabtu, 17 Juli 2010


Iring-iringan pengawal para pejabat di Indonesia memang kerap mengundang keluhan. Tak tahan lagi memafhumi, Hendra NS, seorang warga Cibubur yang selalu berhadapan dengan petugas Patroli Pengawal (Patwal) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengungkapkan kekesalannya melalui Surat Pembaca Kompas edisi 16 Juli 2010.

Keluh kesah Hendra seakan mewakili unek-unek ribuan warga lainnya yang kerap mendapatkan kesal yang sama saat berkendara di jalanan Ibu Kota. Setidaknya,Kompas.com merangkum beberapa keluhan lainnya. Semoga para pejabat mau mendengarnya….
Inilah surat Hendra yang dimuat di Harian Kompas dan mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan:

Redaksi Yth.

Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya—juga mayoritas pengguna jalan itu—memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri. Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan.

Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan. Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara.

Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “Dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “Mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “Tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris.

Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?” Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS Cibubur ***

Seorang warga Jakarta, Rinda, juga pernah mengalami hal yang sama. Bekerja di kawasan Thamrin membuatnya saat berkendara kerap bersinggungan dengan iringan mobil pejabat yang berkantor di kawasan Medan Merdeka. Surat pembaca yang dikirimkan Hendra pun sempat dibacanya.

“Iya, itu surat pembaca udah bener banget. Saya pikir, orang Jakarta, kalo ditanya soal mobil-mobil pejabat yang lewat kesannya sama deh: kesal dan sok banget. Enggak merakyat,” kata Rinda, Jumat (16/7/2010) malam.
Ia lantas bercerita, suatu saat pernah mengalami kejadian yang membuatnya kesal setengah mati. Ketika melintas di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan, petugas pengawal mobil pejabat dengan seenaknya meminta mobil-mobil menepi. Padahal, saat itu dalam keadaan macet.

“Saya paham sih, dia cuma pengawal yang mungkin takut sama bosnya. Tapi kelakuannya itu suka enggak mikir. Waktu itu sore dalam keadaan hujan. Pakubuwono itu kan satu arah. Pas macet banget. Mobil pengawalnya, kalo enggak salah Nissan Terrano. Bunyiin sirene yang ampun deh, heboh banget. Terus, jendela bagian depan dibuka, si petugas mengacung-acungkan pentungannya nyuruh mobil minggir karena mobil dia dan pejabat juga terjebak kemacetan. Lah, saya yang ada di sebelah mobilnya, langsung bilang, ‘Mau minggir gimana, Pak. Lihat dong, macet gini. Enak aja main perintah’. Saya bilang gitu, dia langsung turun, terusminggirminggirin mobil. Mana bisa, saat itu padet banget. Akhirnya ikut kena macet juga enggak bisa apa-apa,” cerita Rinda panjang lebar.

Ia memaklumi, jika para pejabat memang mendapatkan perlakuan yang istimewa. Namun, ia mengharapkan, ada sikap arif dari sang pejabat untuk memahami kondisi saat berkendara di jalan raya.

“Jangan karena kita rakyat biasa, kemudian mereka seenaknya aja memperlakukan kita. Sekali-sekali merasakan jadi rakyat biasa kan juga enggak apa-apa. Merasakan bagaimana nikmatnya macet, ha-ha-ha,” ujarnya.
Ya, semoga mereka mendengarnya! Anda juga, punyakah pengalaman yang sama?
(Kompas.com)

Selasa, 13 Juli 2010

Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ke-7, memilih Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum 2010-2015 secara aklamasi. 33 DPD menerima laporan pertanggung jawaban Prabowo dan meminta agar Prabowo kembali memimpin HKTI.  “Pak Prabowo terpilih secara aklamasi dan sah sebagai Ketua Umum HKTI 2010-2015,” ujar Sekjen HKTI Rachmat Pambudy kepada detikcom di Inna Grand Bali Beach Hotel Santur, Selasa (13/7/2010).

Menurut Rachmat, hanya DPD Bengkulu yang tidak memberikan suaranya. Sebab, pengurus provinsi ini tidak hadir saat rapat pleno. “Tadi kita panggil-panggil juga tidak ada,” katanya.

Dengan terpilihnya Prabowo, lanjutnya, agenda Munas tinggal menyisahkan sidang Komisi Munas yaitu, perancangan dan pengesahan AD/ART, rapat komisi program dan rapat rekomendasi hasil Munas. Prabowo mengungguli 3 kandidat lainnya, yakni Jafar Hafsah, Titiek Soeharto dan Osman Sapta Odang.

(Detik.com)

PRABOWO KAGUMI HERMAN SARENS

Posted: Juli 11, 2010 in berita

Minggu, 11 Juli 2010

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengagumi sosok almarhum Brigjen TNI (Purn) Herman Sarens Sudiro. Menurut Prabowo, Herman Sarens merupakan sosok prajurit yang memiliki patriotisme tinggi. “Beliau adalah pejuang 45, seorang tokoh yang sangat saya kagumi,” kata Prabowo saat melayat ke rumah duka, Jalan Daksa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (11/7/2010).

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini menilai Herman memiliki jiwa sosial dan semangat nasionalisme yang tinggi. Prabowo kemudian mengingat kiprah Herman yang aktif di bidang olahraga dan kepemudaan.

Meski terkesan “sangar”, kata Prabowo, Herman Sarens tak segan untuk membagikan pengalaman dan semangatnya kepada kaum muda. “Semangat dan jiwa mudanya itu tinggi sekali, ya koboi-koboian begitulah, seperti Nagabonar. Tapi saya senang dengan beliau,” tuturnya.

Seperti diberitakan, Brigjen TNI (Purn) Herman Sarens Sudiro tutup usia pada siang tadi karena sakit komplikasi yang dideritanya. Almarhum wafat dalam usia 82 tahun setelah dirawat cukup lama di RS Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.  Herman sempat menjadi terdakwa kasus penyalahgunaan aset negara yakni tanah milik TNI. Kasus Herman yang diproses di Pengadilan Tinggi Militer II Jakarta akhirnya dinyatakan ditutup setelah dokter menyatakan Herman tidak bisa mengikuti jalannya sidang karena sakit yang dideritanya.

(Kompas.com)

PEROLEHAN MEDALI PORDA JAWA BARAT

Posted: Juli 11, 2010 in berita
Daerah Emas Perak Perunggu
Kota Bandung 68 54 57
Kab. Bogor 46 51 37
Kab. Bekasi 42 26 38
Kab. Bandung 40 49 49
Kota Bekasi 36 15 25
Kab. Bandung Barat 20 30 33
Kab. Purwakarta 19 16 17
Kab. Indramayu 18 17 23
Kab. Ciamis 13 14 23
Kota Bogor 13 12 20
Kab. Subang 12 10 18
Kab. Cianjur 11 17 19
Kab. Garut 11 11 17
Kab. Tasikmalaya 10 11 8
Kota Tasikmalaya 10 6 12
Kab. Sumedang 8 13 20
Kab. Karawang 8 7 21
Kota Sukabumi 6 5 12
Kab. Kuningan 6 5 5
Kota Cirebon 5 9 17
Kab. Cirebon 2 7 19
Kota Cimahi 2 6 10
Kab. Sukabumi 2 5 10
Kab. Majalengka 2 2 6
Kota Depok 2 2 6
Kota Banjar 1 1 3

JAKARTA, (PRLM).- Untuk menghadapi Pemilu 2014 mendatang, elit politik akan memakai semua ‘kendaraan’ seperti masuknya dalam persaingan calon Ketua Umum pada organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Namun Prabowo Subianto kemungkinan besar akan tetap unggul dari dua pesaing dari elit parpol lainnya seperti Jafar Hafsah (Partai Demokrat) dan Usman Sapta (Partai Persatuan Daerah). Hal itu diungkapkan pengamat politik dari LIPI Indria Samego dalam diskusi hasil Survei Pusat Kajian dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) di Jakarta, Rabu (7/7). “Untuk memenangi Pemilu, semua ‘kendaraan’ akan dipakai termasuk HKTI, karena prinsip kekuasaan itu menyebar dan ke mana-mana,” kata Indria. Meski HKTI tidak berpengaruh secara otomatis dengan pemilih petani, Indria mengatakan, Prabowo punya modal politik yang tidak dimiliki oleh calon lainnya, bahkan untuk tingkat Pemilu 2014 mendatang. Prabowo lebih punya kans di Pemilu 2014 dibandingkan Aburizal Bakrie karena alasan primordialisme. Pada 2014 juga, figur Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan ikut bersaing lagi karena sudah menjabat Presiden sebanyak dua periode. Prabowo pun mempunyai modal sebuah partai yang bisa berkembang dalam menghadapi Pemilu 2014 mendatang. “HKTI itu tidak secara otomatis menjadi pilihan petani dalam mengartikulasikan pilihan-pilihannya.Tapi Prabowo punya modal politik yang besar untuk maju di Pemilu 2014,” kata Indria. Sementara itu Direktur Eksekutif Puskaptis Husein Yazid mengatakan, Prabowo Subianto menduduki ranking pertama dengan raihan 56,07 persen responden hasil survei Puskaptis tentang persepsi publik untuk tokoh paling menonjol di bidang pertanian. Urutan kedua terbanyak adalah Siswono Yudhohusodo (8,65%), kemudian ada mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono (2,10%), Prof. Bungaran Saragih (1,90%). Tokoh lainnya 1,33 persen, dan yang menjawab tidak tahu sebanyak 29,95 persen. “Prabowo meraih survei terbanyak karena saat ini merupakan Ketum HKTI dan juga figur nasional,” kata Husein. Husein menjelaskan bahwa survei Puskaptis itu dilakukan 21-24 Juni 2010 dengan 880 responden di 16 provinsi di Indonesia. Adapun tingkat margin error berkisar 3-5 persen dan tingkat keyakinan 95 persen. “Prabowo dinilai respon sebagai figur yang memiliki kepedulian, merakyat dan membawa kemajuan terhadap nasib petani dan memajukan sektor pertanian,” kata Husein. Sementara itu, pengamat ekonomi Aviliani mengatakan sektor pertanian sangat penting bagi kampanye pemilu 2014. Pasalnya dari sebesar 117 juta angkatan kerja, ternyata 42 persen itu adalah di sektor pertanian. “Kalau bisa mengelola kampanye di sektor pertanian, maka berpotensi untuk memenangi pemilu,” kata Aviliani. (A-130/das)***